Scroll untuk baca artikel
News

Arti Sebuah Kemerdekaan Bagi Suriadi

101
×

Arti Sebuah Kemerdekaan Bagi Suriadi

Sebarkan artikel ini

Jika ada yang bertanya kepada saya “Bagaimana anda memaknai Hari Kemerdekaan 17 Agustus?”. Jujur, saya bangga menjadi Warga Negara Indonesia. Akan tetapi saya merasa sangat kebingungan untuk menjawab pertanyaannya. Menurut saya, apa yang harus diartikan dari hari kemerdekaan untuk saat ini. Saya hanya melihat serta menyaksikan berbagai pertunjukan, perlombaan yang dilakukan oleh sekumpulan orang itu-itu saja. Tapi apa yang dilakukan itu bukanlah sebuah kesalahan yang pantas mendapat ganjaran. Tentunya masing-masing kita memiliki pandangan yang berbeda dalam memaknai arti sebuah kemerdekaan.

Kalau boleh lebih jujur, saya harus mengatakan bahwa kemerdekaan itu bukanlah sekedar menyaksikan dan mengikuti perlombaan. Namun juga harus terbebas dari segala belenggu yang menghantui. Sehingga kita akan terlarut dalam suasana yang benar-benar merdeka ketika menyambut dan memeriahkan hari kemerdekaan. Realitanya harus saya akui, bagi saya bahwa kemerdekaan itu hanya sebatas seremonial belaka.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Kita memang merasa aman dan damai sehingga tak perlu lagi perjuangan, tak perlu ada lagi tetesan darah karena kita tidak sedang berperang menghunus bambu runcing. Namun satu hal yang harus kita pahami adalah bahwa kita masih terjajah. 78 tahun yang silam kita dijajah oleh senjata-senjata, tank lapis baja, pesawat tempur serta bombardir penghancur tanah yang tak rata. Dimana tragedi mencengkam itu tampak terpampang dengan jelas oleh mata kita melalui lembaran sejarah. Kita tahu itu dan akhirnya bangsa ini memutuskan untuk melawan pada saat itu. Tapi hari ini kita merayakan kemerdekaan itu dengan merubah Tragedi menjadi sebuah komedi. Ah, entahlah… Saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Dengan tidak bermaksud menggring opini publik, membidik orang perorang atau menyudutkan oknum tertentu saya memaparkan semua ini berdasarkan pandangan saya yang objektif dalam keadaan sehat dan tidak sedang berhalusinasi.

Beberapa hal yang perlu saya sampaikan sebagai masyarakat kecil, miskin yang tak berdaya ini dan mungkin mewakili kaum tertindas lainnya adalah langkah serta kebijakan pemerintah yang programnya bagi sebagian kalangan diacungi jempol namun kenyataannya sampai ke saya justru isapan jempol.

Program pemerintah berupa bantuan sosial (bansos) merupakan bagian dari usaha guna menyejahterakan masyarakat. Selain itu, diberikannya bansos tersebut untuk memenuhi dan menjamin kebutuhan dasar serta meningkatkan taraf hidup penerimanya. Fungsi ini juga sejalan dengan amanat dalam Inpres Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar, dan Program Indonesia Sehat untuk Membangun Keluarga Produktif.

Program-program bansos untuk rakyat mencakup Program Indonesia Pintar (PIP), Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN-KIS), Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bansos Rastra/ Bantuan Pangan Non Tunai. Perluasan program bantuan sosial merupakan komitmen pemerintah untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan. Namun, apakah pendistribusian bansos itu sudah sesuai dengan sasaran?

Hanya Tuhan lah yang tau. Dan mereka para pemangku jabatan cenderung tidak pernah tau bagaimana perasaan ku. Atau mungkinkah ini bahagian dari sebuah cobaan hidup yang mewajibkan aku harus tetap bersabar? Dimana letak keberadaan sila ke 5 Pancasila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jelas ini tidak adil.

Yang jadi persoalan bagi kita saat ini bukan adakah makanan, tetapi bagaimana bisa mengatur masyarakat supaya bisa sama-sama makan dari penyampaian bantuan yang tepat sasaran Semua manusia menjangkau makanan. Terkhusus bagi rakyat kecil seperti saya, makan itu untuk hidup bukan hidup untuk makan.

Harapan saya semoga Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 78 tahun ini menjadi sebuah momentum untuk perubahan yang lebih baik. Meski, perjalanan panjang menuju kesempurnaan masih menyisakan banyak tikungan berliku. Negara kita sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Banyak pekerjaan rumah yang harus terselesaikan. Menilik dari sisi hukum misalnya. Kerap kali terdengar keluhan tentang sejauh mana rasa keadilan hukum dapat diakses oleh masyarakat. Langkah pembaharuan dalam penegakan hukum pun perlu menjadi landasan berarti. Agar masyarakat sama keberadaannya didepan hukum. Tidak ada tebang pilih antara si kaya dan si miskin.

Selamat memperingati HUT RI ke 78, Terus Melaju Untuk Indonesia Maju.


Penulis adalah Warga Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang bekerja serabutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *